Kamis, 22 Desember 2016
Minggu, 26 Juni 2016
Tulisan Bebas Softskill Bahasa Indonesia 2 ( Kabut Asap Merajalela)
Kabut Asap Merajalela
Kabut asap yang menyelimuti wilayah Sumatera dan Kalimantan kini sudah menjadi siklus tahunan di Indonesia. Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan seperti sudah menjadi tradisi bagi kita, bahkan tidak hanya wilayah Indonesia tetapi negara tetangga pun ikut merasakan dampaknya, seperti Malaysia dan Singapura. Hingga oktober ini, Kementrian lingkungan hidup dan kehutanan mencatat ada 156 titik panas sumber kabut asap di Sumatera dan Kalimantan.
Kabut asap tidak hanya berdampak bagi perekenomian melainkan juga berdanpak pada lingkungan, kesehatan dan pendidikan. Dari segi ekonomi, bencana ini mengurangi kunjungan wisatawan domestik dan menganggu aktivitas bisnis dimana banyaknya penerbangan yang ditunda bahkan penutupan bandara untuk sementara waktu, hal ini berakibat bagi Negara yang diperikirakan mengalami kerugian tujuh triliun lebih. Sedangkan dari segi kesehatan, sebanyak 25,6 juta jiwa di sumatera mengalami infeksi saluran pernapasan dan ada yang sampai mengakibatkan kepada kematian. Apalagi bagi balita dan anak-anak betapa sulitnya bernafas dan menghirup udara segera seperti biasa, Anak-anak terganggu jam belajarnya, sekolah diliburkan, guru menjadi kerepotan karena target capaian kurukulum meleset dari yang ditentukan dan diperkirakan hasil belajar tahun ini akan jauh dari apa yang diharapkan. Namun begitulah ironinya, meski membuat begitu banyak kerugian namun kabut asap ini terus saja terjadi setiap tahunnya. Bahkan jumlah titik api yang terdeteksi pun semakin lama semakin banyak. Apakah anda setuju untuk memberikan apresiasi terhadap fakta ini?
Sebuah fakta yang aneh mengingat sebuah tradisi seharusnya membuat kita semua bersiap dan waspada. Sehingga mampu melakukan tindakan pencegahan dan penanganan yang lebih baik. Bahkan menghentikan tradisi itu! Namun ternyata ketika pada 2015 ini tradisi kabut asap itu masih kembali hadir. Dan ternyata, kita kembali tak berdaya dan pasrah. Indonesia punya segudang orang-orang berpendidikan tapi mengapa masalah kabut asap tetap tidak bisa ditangani ?
Setelah kabut asap merajalela, pemerintah dan aparat baru bergerak dan membagikan ribuan masker dan hukum mulai bertindak tegas, kemudian asap menipis dan terlupakan seperti angin lalu dan tahun depan kabut melanda lagi, seperti siklus.
Setelah kabut asap merajalela, pemerintah dan aparat baru bergerak dan membagikan ribuan masker dan hukum mulai bertindak tegas, kemudian asap menipis dan terlupakan seperti angin lalu dan tahun depan kabut melanda lagi, seperti siklus.
Kita dapat mulai dari hentikan pembakaran hutan yang dilakukan orang-orang yang tidak bertanggung jawab hanya untuk memperluas wilayah industri. Selain para ilmuwan tanah air, mungkin kita bisa mengundang para pakar dari luar negeri terkait solusi standar membuka lahan tanpa pembakaran ini. Selanjutnya adalah para pengusaha yang bergerak di sektor kehutanan tersebut, kita masih harus mencari cara agar para pengusaha tersebut mau “bekerjasama” menggarap lahan tanpa membakar. Kita masih harus memutar akal agar para pengusaha tersebut terbuka pintu hatinya bahwa membakar hutan, sungguh adalah perbuatan sia-sia. Hal paling penting dari semuanya itu adalah praktek lapangannya atau penerapannya dalam realita, bukankah kita sudah bosan dan malu sebagai bangsa yang besar tidak dapat menyelesaikan masalah yang sama terus menerus melanda negeri ini? Mari terapkan slogan yang mengatakan mencegah lebih baik daripada mengobati untuk Indonesia bebas kabut asap.
LANGKAH-LANGKAH PENULISAN ILMIAH
BAB
I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Karya ilmiah merupakan karya tulis yang isinya berusaha memaparkan suatu
pembahasan secara ilmiah yang dilakukan oleh seorang penulis atau peneliti.
Untuk memberitahukan sesuatu hal secara logis dan sistematis kepada para
pembaca. Karya ilmiah biasanya ditulis untuk mencari jawaban mengenai sesuatu
hal dan untuk membuktikan kebenaran tentang sesuatu yang terdapat dalam
objek tulisan.
Di lihat dari panjang pendeknya atau kedalaman uraiaan,
karya tulis ilmiah dibedakan atas makalah (paper) dan laporan penelitian.
Dalam penulisan, baik makalah maupun laporan penelitian, didasarkan pada kajian
ilmiah dan cara kerja ilmiah.
B. Rumusan
Masalah
Adapun yang menjadi rumusan masalah
dalam makalah ini yaitu bagaimana tahap penyusunan karya ilmiah?
C. Tujuan
Penulisan
Tujuan penulisan dalam makalah ini
adalah untuk tahap penyusunan karya ilmiah.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian
Karya Tulis Ilmiah
Menurut Munawar Syamsudin (1994),
tulisan ilmiah adalah naskah yang membahas suatu masalah tertentu, atas dasar
konsepsi keilmuan tertentu, dengan memilih metode penyajian tertentu secara
utuh, teratur dan konsisten. Menurut Suhardjono (1995), tidak semua karya tulis merupakan
karya tulis ilmiah. Ilmiah artinya mempunyai sifat keilmuan. Suatu karya tulis,
apakah itu berbentuk laporan, makalah, buku, maupun terjemahan, baru dapat
disebut ilmiah apabila memenuhi tiga syarat, yakni :
1. Isi kajiannya berada pada lingkup pengetahuan ilmiah.
2. Menggunakan
metode ilmiah atau cara berpikir ilmiah.
3. Sosok
penampilannya sesuai dan telah memenuhi persyaratan sebagai suatu tulisan
keilmuan.
Selanjutnya, yang
dimaksud pengetahuan ilmiah adalah segala sesuatu yang kita ketahui (pengetahuan) yang dihimpun dengan metode ilmiah (Kemeny dalam The Liang Gie, 1997).
Pengetahuan ilmiah ini selanjutnya disebut dengan “ilmu”. Para filsuf memiliki
pemahaman yang sama mengenai ilmu, yaitu merupakan suatu kumpulan pengetahuan
ilmiah yang tersusun secara sistematis (The Liang Gie, 1997).
BAB
III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Karya ilmiah atau
karangan ilmiah atau scientific paper adalah sebuah laporan yang secara tertulis dan diterbitkan
dengan memaparkan hasil penelitian atau pengkajian yang telah dilakukan oleh
seseorang atau dalam sebuah tim dengan memenuhi kaidah dan etika keilmuan yang
dikukuhkan dan ditaati oleh masyarakat keilmuan. Atau karya ilmiah ini dapat
diartikan sebagai karangan yang mengungkapkan buah pikiran hasil pengamatan,
dalam bidang tertentu dengan sistematika penulisan bersantun bahasa yang
kebenarannya dapat dipertanggung jawabkan.
Tahapan-tahapan
dalam Penulisan Ilmiah
1. Tahap Persiapan
a.
Pemilihan masalah / topik,
mempertimbangkan:
1)
Harus berada disekitar kita.
2)
Harus topik yang paling menarik perhatian.
3)
Terpusat pada segi lingkup yang sempit dan terbatas.
4)
Memiliki data dan fakta yang obyektif.
5)
Harus diketahui prinsip-prinsip ilmiahnya, meskipun serba sedikit
6)
Harus memiliki sumber acuan / bahan kepustakaan yang
dijadikan referensi.
7)
Berikan alasan terhadap pemilihan tersebut.
8)
Nyatakan perlunya diselidiki masalah menurut kepentingan umum
b.
Pembatasan topik/ penentuan Judul
1)
Pembatasan topik harus dilakukan sebelum penulisan karya ilmiah.
2)
Penentuan judul
dapat dilakukan sebelum penulisan karya ilmiah / setelah penulisan karya ilmiah selesai.
3)
Penentuan judul karya ilmiah : pertanyaan yang mengandung
unsur 4W+1H yaitu What (apa), Why (mengapa), When(kapan), Where (dimana) dan How (bagaimana).
c.
Pembuatan kerangka karangan (outline)
1)
Membimbing penyusun karya ilmiah.
2)
Pedoman penulisan karya ilmiah sehingga tidak terjadi tumpang
tindih dalam penganalisisannya.
3)
Pembuatan rencana
daftar isi karya ilmiah.
2. Tahap Pengumpulan Data
a. Pencarian keterangan dari bahan bacaan / referensi.
b. Pengumpulan keterangan dari pihak-pihak yang mengetahui
masalah.
c. Pengamatan langsung (observasi) ke obyek yang akan diteliti.
d.
Percobaan di laboratorium /
pengujian di lapangan.
3. Pemecahan Masalah
Dalam memecahkan
masalah harus diikuti hal-hal berikut:
a. Analisa harus logis. Aturlah bukti dalam bnntuk yang
sistematis dan logis. Demikian juga halnya unsur-unsur yang dapat memecahkan
masalah.
b. Prosedur penelitian yang digunakan harus dinyatakan secara
singkat.
c. Urutkan data, fakta dan keterangan-keterangan khas yang diperlukan.
d. Harus dinyatakan bagaimana set dari data diperoleh termasuk
referensi yang digunakan.
e. Tunjukkan cara data dilola sampai mempunyai arti dalam
memecahkan masalah.
f. Urutkan asumsi-asumsi yang digunakan serta luibungannya dalam
berbagai fase penelitian.
4. Tahap Pengorganisasiandan Pengonsepan
a.
Pengelompokan
bahan, untuk memgorganisasikan bagian mana yang didahulukan dan mana yang
termasuk bagian terakhir. Data yang sudah terkumpul diseleksi dan dikelompokan
sesuai jenis , sifat atau bentuk.
b.
Pengonsepan karya ilmiah dilakukan sesuai dengan urutan dalam kerangka
karangan yang telah ditetapkan.
5. Pemeriksaan/Penyuntingan Konsep
(editing)
Bertujuan
untuk:
a.
Melengkapi yang kurang.
b.
Membuang yang kurang
relevan.
c.
Menghindari penyajian
yang berulang-ulang atau tumpang tindih (overlapping).
d.
Menghindari pemakaian bahasa yang
kurang efektif, misalnya dalam penulisan dan pemilihan kata, penyusunan
kalimat, penyusunan paragraf, maupun penerapan kaidah ejaan.
6. Penyajian
Teknik penyajian
karya ilmiah harus memperhatikan:
a.
Segi kerapian dan kebersihan.
b.
Tata letak (layout)
unsur-unsur dalam format karya ilmiah, misalnya halaman muka (cover), halaman
judul, daftar isi, daftar tabel, daftar grafik, daftar gambar, daftar pustaka
dan lain-lain.
c.
Standar yang berlaku
dalam penulisan karya ilmiah, misalnya standar penulisan kutipan, catatan kaki
(foot note), daftar pustaka & penggunaan bahasa indonesia sesuai EYD.
d.
Bagian inti karya ilmiah.
1) Bagian inti karya ilmiah.
2) Latar belakang dan masalah.
3) Tujuan pembahasan.
4) Ruang lingkup / pembatasan masalah.
5) Asumsi, hipotesis dan kerangka teori.
6) Sumber data
7) Metode dan Teknik.
8) Bagian analisis atau pembahasan.
7. Kesimpulan
a. Berikan kesimpulan
dari hipotesa. nyatakan dua atau tiga kesimpulan yang mungkin diperoleh .
b.Berikan implikasi dari
kesimpulan.
c c. jelaskan bebernpa
implikasi dari produk hipotesa dengan memberikan beberapa inferensi.
8. Berikan studi-studi sebelumnya yang pernah
dikerjakan yang berhubungan dengan masalah.
Nyalakan kerja-kerja sebelumnya secara singkat dan berikan
referensi bibliografi yang mungkin ada manfaatnya sebagai model dalam
memecahkan masalah. Dari pedoman beberapa ahli di atas, maka dapat disimpulkan
bahwa penelitian dengan menggunakan metode ilmiah sekurang-kurangnya dilakukan
dengan langkah-langkah berikut:
a.
Merumuskan serta
mendefinisikan masalah.
b.
Mengadakan studi
kepustakaan.
c.
Memformulasikan
hipotesa.
d.
Menentukan model untuk
menguji hipotesa.
e.
Mengumpulkan data.
f.
Menyusun, Menganalisa,
and Menyusun interfensi.
g.
Membuat generalisasi
dan kesimpulan.
h.
Membuat laporan ilmiah.
Senin, 02 Mei 2016
DATA
1.
Pengertian
Data
Data
adalah kumpulan informasi yang diperoleh dari suatu pengamatan, dapat berupa
angka, lambang atau sifat. Menurut Webster New World Dictionary, pengertian
data adalahthings known or assumed, yang berarti bahwa data itu sesuatu yang
diketahui atau dianggap. Diketahui artinya yang sudah terjadi merupakan fakta
(bukti). Data dapat memberikan gambaran tentang suatu keadaan atau persoalan.
Data bisa juga didefinisikan sebagai sekumpulan informasi atau nilai yang
diperoleh dari pengamatan (obsevasi) suatu objek. Data yang baik adalah data
yang bisa dipercaya kebenarannya (reliable), tepat waktu dan mencakup ruang
lingkup yang luas atau bisa memberikan gambaran tentang suatu masalah secara
menyeluruh merupakan data relevan.
2.
Jenis-jenis
Data
Jenis-jenis
data dapat dibagi berdasarkan sifatnya, sumbernya, cara memperolehnya, dan
waktu pengumpulannya. Menurut sifatnya, jenis-jenis data yaitu:
-
Data Kualitatif: data kualitatif adalah
data yang tidak berbentuk angka, misalnya: Kuesioner Pertanyaan tentang suasana
kerja, kualitas pelayanan sebuah rumah sakit atau gaya kepemimpinan, dll.
-
Data Kuantitatif: data kuantitatif
adalah data yang berbentuk angka, misalnya: harga saham, besarnya pendapatan,
dll.
Jenis-jenis data
menurut sumbernya, antara lain:
-
Data Internal: data intenal adalah data
dari dalam suatu organisasi yang menggambarkan keadaan organisasi tersebut.
Contohnya: suatu perusahaan, jumlah karyawannya, jumlah modalnya, atau jumlah
produksinya, dll.
-
Data Eksternal: data eksternal adalah
data dari luar suatu organisasi yang dapat menggambarkan faktor-faktor yang
mungkin mempengaruhi hasil kerja suatu organisasi. Misalnya: daya beli
masyarakat mempengaruhi hasil penjualan suatu perusahaan.
Jenis-jenis data
menurut cara memperolehnya, antara lain:
-
Data Primer (primary data): data primer
adalah data yang dikumpulkan sendiri oleh perorangan/suatu organisasi secara
langsung dari objek yang diteliti dan untuk kepentingan studi yang bersangkutan
yang dapat berupa interview, observasi.
-
Data Sekunder (secondary data): data
sekunder adalah data yang diperoleh/ dikumpulkan dan disatukan oleh studi-studi
sebelumnya atau yang diterbitkan oleh berbagai instansi lain. Biasanya sumber
tidak langsung berupa data dokumentasi dan arsip-arsip resmi.
Jenis-jenis data
menurut waktu pengumpulannya, antara lain:
-
Data cross section, yaitu data yang
dikumpulkan pada suatu waktu tertentu (at a point of time) untuk menggambarkan
keadaan dan kegiatan pada waktu tersebut. Misalnya; data penelitian yang
menggunakan kuesioner.
-
Data berkala (time series data), yaitu
data yang dikumpulkan dari waktu ke waktu untuk melihat perkembangan suatu
kejadian/kegiatan selama periode tersebut. Misalnya, perkembangan uang beredar,
harga 9 macam bahan pokok penduduk.
Sumber :
http://okyrostania.blogspot.co.uk/
Jumat, 22 April 2016
HIPOTESIS
1.
Pengertian
Hipotesis
Hipotesis berasal dari
bahasa Yunani:
hypo = di bawah;thesis = pendirian, pendapat yang ditegakkan,
kepastian.
Artinya, hipotesa merupakan sebuah istilah
ilmiah
yang digunakan dalam rangka kegiatan ilmiah yang
mengikuti kaidah-kaidah berfikir biasa, secara sadar, teliti, dan terarah. Dalam
penggunaannya sehari-hari hipotesa ini sering juga disebut dengan hipotesis,
tidak ada perbedaan makna
di dalamnya. Ketika berfikir untuk sehari-hari, orang sering menyebut hipotesis
sebagai sebuah anggapan, perkiraan, dugaan, dan sebagainya. Hipotesis juga
berarti sebuah pernyataan atau proposisi yang mengatakan bahwa di antara sejumlah fakta ada hubungan
tertentu. Proposisi inilah yang akan membentuk proses terbentuknya sebuah
hipotesis di dalam penelitian, salah satu di antaranya, yaitu penelitian
sosial.
Proses
pembentukan hipotesis merupakan sebuah proses
penalaran,
yang melalui tahap-tahap tertentu. Hal demikian juga terjadi dalam pembuatan
hipotesis ilmiah,
yang dilakukan dengan sadar, teliti, dan terarah. Sehingga,
dapat dikatakan bahwa sebuah Hipotesis merupakan satu tipe proposisi yang
langsung dapat diuji
Contoh: Apabila terlihat awan hitam dan langit
menjadi pekat, maka seseorang dapat saja menyimpulkan (menduga-duga)
berdasarkan pengalamannya bahwa (karena langit mendung, maka...)
sebentar lagi hujan akan turun. Apabila ternyata beberapa saat kemudia hujan
benar turun, maka dugaan terbukti benar.
Secara ilmiah, dugaan ini disebut hipotesis. Namun apabila ternyata tidak
turun hujan, maka hipotesisnya dinyatakan keliru.
2. Kegunaan Hipotesis
Hipotesis merupakan elemen penting dalam
penelitian ilmiah, khususnya penelitian kuantitatif. Terdapat tiga
alasan utama yang mendukung pandangan ini, di antaranya:
a.
Hipotesis dapat dikatakan sebagai piranti kerja teori. Hipotesis ini dapat
dilihat dari teori yang
digunakan untuk menjelaskan permasalahan yang akan diteliti. Misalnya, sebab
dan akibat dari konflik dapat dijelaskan melalui teori mengenai konflik.
b.
Hipotesis dapat diuji dan ditunjukkan
kemungkinan benar atau tidak benar atau di falsifikasi.
c.
Hipotesis adalah alat yang besar
dayanya untuk memajukan pengetahuan karena membuat ilmuwan dapat
keluar dari dirinya sendiri. Artinya, hipotesis disusun dan diuji untuk
menunjukkan benar atau salahnya dengan cara terbebas dari nilai dan pendapat
peneliti yang menyusun dan mengujinya.
3. Hipotesis Dalam Penelitian
Walaupun hipotesis penting sebagai arah dan pedoman
kerja dalam penelitian, tidak semua penelitian mutlak harus memiliki
hipotesis. Penggunaan hipotesis dalam suatu penelitian didasarkan pada masalah atau tujuan penelitian. Dalam
masalah atau tujuan penelitian tampak apakah penelitian menggunakan
hipotesis atau tidak. Contohnya yaitu Penelitian eksplorasi yang
tujuannya untuk menggali dan mengumpulkan sebanyak mungkin data atau informasi tidak
menggunakan hipotesis. Hal ini sama dengan penelitian deskriptif, ada yang
berpendapat tidak menggunakan hipotesis sebab hanya membuat deskripsi
atau mengukur secara cermat tentang fenomena yang
diteliti, tetapi ada juga yang menganggap penelitian deskriptif dapat
menggunakan hipotesis. Sedangkan, dalam penelitian penjelasan yang
bertujuan menjelaskan hubungan antar-variabel
adalah keharusan untuk menggunakan hipotesis.
Fungsi penting hipotesis di dalam penelitian,
yaitu:
a. Untuk menguji
teori
b. Mendorong
munculnya teori
c. Menerangkan
fenomena sosial
d. Sebagai pedoman
untuk mengarahkan penelitian,
e. Memberikan
kerangka untuk menyusun kesimpulan yang akan dihasilkan.
A.
Karakterisitik
a. Hipotesis
diturunkan dari suatu teori yang disusun untuk menjelaskan masalah dan
dinyatakan dalam proposisi-proposisi. Oleh sebab itu, hipotesis merupakan
jawaban atau dugaan sementara atas masalah yang dirumuskan atau searah dengan
tujuan penelitian.
b. Hipotesis
harus dinyatakan secara jelas, dalam istilah yang
benar dan secara operasional. Aturan untuk,
menguji satu hipotesis secara empiris adalah
harus mendefinisikan secara operasional semua variabel dalam
hipotesis dan diketahui secara pasti variabel independen dan variabel dependen.
c. Hipotesis
menyatakan variasi nilai sehingga dapat diukur secara empiris dan
memberikan gambaran mengenai fenomena yang
diteliti. Untuk hipotesis deskriptif berarti
hipotesis secara jelas menyatakan kondisi, ukuran,
atau distribusi suatu
variabel atau fenomenanya yang dinyatakan dalam nilai-nilai yang
mempunyai makna.
d. Hipotesis
harus bebas nilai. Artinya nilai-nilai
yang dimiliki peneliti dan preferensi subyektivitas tidak
memiliki tempat di dalam pendekatan ilmiah seperti halnya dalam hipotesis.
e. Hipotesis
harus dapat diuji. Untuk itu, instrumen harus
ada (atau dapat dikembangkan) yang akan menggambarkan ukuran yang valid
dari variabel yang
diliputi. Kemudian, hipotesis dapat diuji dengan metode yang
tersedia yang dapat digunakan untuk mengujinya sebab peneliti dapat merumuskan
hipotesis yang bersih, bebas nilai,
dan spesifik, serta menemukan bahwa
tidak ada metode penelitian untuk
mengujinya. Oleh sebab itu, evaluasi hipotesis
bergantung pada eksistensi metode-metode untuk mengujinya, baik metode pengamatan,
pengumpulan data, analisis data, maupun generalisasi.
f. Hipotesis
harus spesifik. Hipotesis harus bersifat spesifik yang menunjuk kenyataan
sebenarnya. Peneliti harus bersifat spesifik yang menunjuk kenyataan yang
sebenarnya. Peneliti harus memiliki hubungan eksplisit
yang diharapkan di antara variabel dalam istilah arah (seperti, positif dan negatif). Satu hipotesis
menyatakan bahwa X berhubungan dengan Y adalah sangat umum. Hubungan antara X
dan Y dapat positif atau negatif. Selanjutnya, hubungan tidak bebas dari waktu, ruang, atauunit analisis yang
jelas. Jadi, hipotesis akan menekankan hubungan yang diharapkan di antara
variabel, sebagaimana kondisi di bawah hubungan yang diharapkan untuk
dijelaskan. Sehubungan dengan hal tersebut, teori menjadi penting secara khusus
dalam pembentukan hipotesis yang dapat diteliti karena dalam teori dijelaskan arah
hubungan antara variabel yang akan dihipotesiskan.
g. Hipotesis harus
menyatakan perbedaan atau hubungan antar-variabel. Satu hipotesis yang
memuaskan adalah salah satu hubungan yang diharapkan di antara variabel dibuat
secara eksplisit.
B.
Tahap-tahap
pembentukan hipotesis secara umum
a.
Penentuan
masalah
Dasar penalaran ilmiah ialah kekayaan pengetahuan ilmiah
yang biasanya timbul karena sesuatu keadaan atau peristiwa yang terlihat tidak
atau tidak dapat diterangkan berdasarkan hukum atau teori atau dalil-dalil ilmu yang
sudah diketahui. Dasar penalaran pun sebaiknya dikerjakan dengan sadar
dengan perumusan yang tepat. Dalam proses penalaran ilmiah tersebut,
penentuan masalah mendapat bentuk perumusan masalah.
b.
Hipotesis pendahuluan atau hipotesis preliminer (preliminary
hypothesis).
Dugaan atau anggapan sementara yang menjadi pangkal bertolak dari
semua kegiatan. Ini digunakan juga dalam penalaran ilmiah. Tanpa
hipotesa preliminer,pengamatan tidak akan terarah. Fakta yang terkumpul
mungkin tidak akan dapat digunakan untuk menyimpulkan suatu konklusi, karena tidak
relevan denganmasalah yang
dihadapi. Karena tidak dirumuskan secara eksplisit, dalam penelitian,
hipotesis priliminer dianggap bukan hipotesis keseluruhan penelitian,
namun merupakan sebuah hipotesis yang hanya digunakan untuk melakukan uji coba
sebelum penelitian sebenarnya dilaksanakan.
c.
Pengumpulan fakta
Dalam penalaran ilmiah, di antara jumlah fakta yang besarnya tak
terbatas itu hanya dipilih fakta-fakta yang relevan dengan
hipotesa preliminer yang perumusannya didasarkan pada ketelitian dan ketepatan
memilih fakta.
d.
Formulasi hipotesa
Pembentukan hipotesa dapat melalui ilham atau intuisi, dimana
logika tidak dapat berkata apa-apa tentang hal ini. Hipotesa diciptakan
saat terdapat hubungan tertentu di antara sejumlah fakta. Sebagai contoh
sebuah anekdot yang
jelas menggambarkan sifat penemuan dari hipotesa, diceritakan bahwa sebuah apel
jatuh dari pohon ketika Newton tidur di bawahnya dan teringat olehnya bahwa
semua benda pasti jatuh dan seketika itu pula dilihat hipotesanya, yang dikenal
denganhukum gravitasi.
e.
Pengujian hipotesa
Artinya, mencocokkan hipotesa dengan keadaan yang dapat diamati dalam
istilah ilmiah hal ini disebut verifikasi
(pembenaran). Apabila hipotesa terbukti cocok dengan fakta maka
disebut konfirmasi. Falsifikasi(penyalahan)
terjadi jika usaha menemukan fakta dalam pengujian hipotesa tidak sesuai dengan
hipotesa. Bilamana usaha itu tidak berhasil, maka hipotesa tidak terbantah oleh
fakta yang dinamakan koroborasi (corroboration). Hipotesa
yang sering mendapat konfirmasi atau koroborasi dapat disebut teori.
f.
Aplikasi/penerapan
Apabila hipotesa itu benar dan dapat diadakan
menjadi ramalan (dalam
istilah ilmiah disebut prediksi), dan ramalan itu
harus terbukti cocok dengan fakta. Kemudian harus dapat diverifikasikan/koroborasikan
dengan fakta.
Sumber :
Langganan:
Komentar (Atom)

















