Minggu, 26 Juni 2016

Tulisan Bebas Softskill Bahasa Indonesia 2 ( Kabut Asap Merajalela)

Kabut Asap Merajalela

Kabut asap yang menyelimuti wilayah Sumatera dan Kalimantan kini sudah menjadi siklus tahunan di Indonesia. Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan seperti sudah menjadi tradisi bagi kita, bahkan tidak hanya wilayah Indonesia tetapi negara tetangga pun ikut merasakan dampaknya, seperti Malaysia dan Singapura. Hingga oktober ini, Kementrian lingkungan hidup dan kehutanan mencatat ada 156 titik panas sumber kabut asap di Sumatera dan Kalimantan.

Kabut asap tidak hanya berdampak bagi perekenomian melainkan juga berdanpak pada lingkungan, kesehatan dan pendidikan. Dari segi ekonomi, bencana ini mengurangi kunjungan wisatawan domestik dan menganggu aktivitas bisnis dimana banyaknya penerbangan yang ditunda bahkan penutupan bandara untuk sementara waktu, hal ini berakibat bagi Negara yang  diperikirakan mengalami kerugian tujuh  triliun lebih. Sedangkan dari segi kesehatan, sebanyak 25,6 juta jiwa di sumatera mengalami infeksi saluran pernapasan dan ada yang sampai mengakibatkan kepada kematian. Apalagi bagi balita dan anak-anak betapa sulitnya bernafas dan menghirup udara segera seperti biasa, Anak-anak terganggu  jam belajarnya, sekolah diliburkan, guru menjadi kerepotan karena target capaian kurukulum meleset dari yang ditentukan dan diperkirakan hasil belajar tahun ini akan jauh dari apa yang diharapkan. Namun begitulah ironinya, meski membuat begitu banyak kerugian namun kabut asap ini terus saja terjadi setiap tahunnya. Bahkan jumlah titik api yang terdeteksi pun semakin lama semakin banyak. Apakah anda setuju untuk memberikan apresiasi terhadap fakta ini?

Sebuah fakta yang aneh mengingat sebuah tradisi seharusnya membuat kita semua bersiap dan waspada. Sehingga mampu melakukan tindakan pencegahan dan penanganan yang lebih baik. Bahkan menghentikan tradisi itu! Namun ternyata ketika pada 2015 ini tradisi kabut asap itu masih kembali hadir. Dan ternyata, kita kembali tak berdaya dan pasrah. Indonesia punya segudang orang-orang berpendidikan tapi mengapa masalah kabut asap tetap tidak bisa ditangani ?
Setelah kabut asap merajalela, pemerintah dan aparat baru bergerak dan membagikan ribuan masker dan hukum mulai bertindak tegas, kemudian asap menipis dan terlupakan seperti angin lalu dan tahun depan kabut melanda lagi, seperti siklus.

Kita dapat mulai dari hentikan pembakaran hutan yang dilakukan orang-orang yang tidak bertanggung jawab hanya untuk memperluas wilayah industri. Selain para ilmuwan tanah air, mungkin kita bisa mengundang para pakar dari luar negeri terkait solusi standar membuka lahan tanpa pembakaran ini. Selanjutnya adalah para pengusaha yang bergerak di sektor kehutanan tersebut, kita masih harus mencari cara agar para pengusaha tersebut mau “bekerjasama” menggarap lahan tanpa membakar. Kita masih harus memutar akal agar para pengusaha tersebut terbuka pintu hatinya bahwa membakar hutan, sungguh adalah perbuatan sia-sia. Hal paling penting dari semuanya itu adalah praktek lapangannya atau penerapannya dalam realita, bukankah kita sudah bosan  dan malu sebagai bangsa yang besar tidak dapat menyelesaikan masalah yang sama terus menerus melanda negeri ini? Mari terapkan slogan yang mengatakan mencegah lebih baik daripada mengobati untuk Indonesia bebas kabut asap.

LANGKAH-LANGKAH PENULISAN ILMIAH


BAB I
PENDAHULUAN
          A. Latar Belakang
Karya ilmiah merupakan karya tulis yang isinya berusaha memaparkan suatu pembahasan secara ilmiah yang dilakukan oleh seorang penulis atau peneliti. Untuk memberitahukan sesuatu hal secara logis dan sistematis kepada para pembaca. Karya ilmiah biasanya ditulis untuk mencari jawaban mengenai sesuatu hal dan untuk membuktikan kebenaran tentang sesuatu yang terdapat dalam objek tulisan.
Di lihat dari panjang pendeknya atau kedalaman uraiaan, karya tulis ilmiah dibedakan atas makalah (paper) dan laporan penelitian. Dalam penulisan, baik makalah maupun laporan penelitian, didasarkan pada kajian ilmiah dan cara kerja ilmiah.

          B.  Rumusan Masalah
Adapun yang menjadi rumusan masalah dalam makalah ini yaitu bagaimana tahap  penyusunan karya ilmiah?

            C. Tujuan Penulisan
Tujuan penulisan dalam makalah ini adalah untuk tahap  penyusunan karya ilmiah.

BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengertian Karya Tulis Ilmiah
Menurut Munawar Syamsudin (1994), tulisan ilmiah adalah naskah yang membahas suatu masalah tertentu, atas dasar konsepsi keilmuan tertentu, dengan memilih metode penyajian tertentu secara utuh, teratur dan konsisten. Menurut Suhardjono (1995), tidak semua karya tulis merupakan karya tulis ilmiah. Ilmiah artinya mempunyai sifat keilmuan. Suatu karya tulis, apakah itu berbentuk laporan, makalah, buku, maupun terjemahan, baru dapat disebut ilmiah apabila memenuhi tiga syarat, yakni :
1.       Isi kajiannya berada pada lingkup pengetahuan ilmiah.
2.      Menggunakan metode ilmiah atau cara berpikir ilmiah.
3.      Sosok penampilannya sesuai dan telah memenuhi persyaratan sebagai suatu tulisan keilmuan.
Selanjutnya, yang dimaksud pengetahuan ilmiah  adalah segala sesuatu yang kita ketahui (pengetahuan) yang dihimpun dengan metode ilmiah (Kemeny dalam The Liang Gie, 1997). Pengetahuan ilmiah ini selanjutnya disebut dengan “ilmu”. Para filsuf memiliki pemahaman yang sama mengenai ilmu, yaitu merupakan suatu kumpulan pengetahuan ilmiah yang tersusun secara sistematis (The Liang Gie, 1997).


BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Karya ilmiah atau karangan ilmiah atau scientific paper adalah sebuah laporan yang secara tertulis dan diterbitkan dengan memaparkan hasil penelitian atau pengkajian yang telah dilakukan oleh seseorang atau dalam sebuah tim dengan memenuhi kaidah dan etika keilmuan yang dikukuhkan dan ditaati oleh masyarakat keilmuan. Atau karya ilmiah ini dapat diartikan sebagai karangan yang mengungkapkan buah pikiran hasil pengamatan, dalam bidang tertentu dengan sistematika penulisan bersantun bahasa yang kebenarannya dapat dipertanggung jawabkan.

Tahapan-tahapan dalam Penulisan Ilmiah
1.      Tahap Persiapan
a.            Pemilihan masalah / topik, mempertimbangkan:
1) Harus berada disekitar kita.
2) Harus topik yang paling menarik perhatian.
3) Terpusat pada segi lingkup yang sempit dan terbatas.
4) Memiliki data dan fakta yang obyektif.                                      
5) Harus diketahui prinsip-prinsip ilmiahnya, meskipun serba sedikit
6) Harus memiliki sumber acuan / bahan kepustakaan yang dijadikan  referensi.
7) Berikan alasan terhadap pemilihan tersebut.
8) Nyatakan perlunya diselidiki masalah menurut kepentingan umum

b.            Pembatasan topik/ penentuan Judul
1)       Pembatasan topik harus dilakukan sebelum penulisan karya ilmiah.
2)        Penentuan judul dapat dilakukan sebelum penulisan karya ilmiah / setelah penulisan karya ilmiah selesai.
3)      Penentuan judul karya ilmiah : pertanyaan yang mengandung unsur 4W+1H yaitu What (apa), Why (mengapa), When(kapan), Where (dimana) dan How (bagaimana).

c.            Pembuatan kerangka karangan (outline)
1)      Membimbing penyusun karya ilmiah.
2)      Pedoman penulisan karya ilmiah sehingga tidak terjadi tumpang tindih dalam penganalisisannya.
3)        Pembuatan rencana daftar isi karya ilmiah.

2.      Tahap Pengumpulan Data
a.       Pencarian keterangan dari bahan bacaan / referensi.
b.      Pengumpulan keterangan dari pihak-pihak yang mengetahui masalah.
c.       Pengamatan langsung (observasi) ke obyek yang akan diteliti.
d.       Percobaan di laboratorium / pengujian di lapangan.

3.      Pemecahan Masalah
Dalam memecahkan masalah harus diikuti hal-hal berikut: 
a.       Analisa harus logis. Aturlah bukti dalam bnntuk yang sistematis dan logis. Demikian juga halnya unsur-unsur yang dapat memecahkan masalah.
b.      Prosedur penelitian yang digunakan harus dinyatakan secara singkat.
c.        Urutkan data, fakta dan keterangan-keterangan khas yang diperlukan.
d.      Harus dinyatakan bagaimana set dari data diperoleh termasuk referensi yang digunakan.
e.       Tunjukkan cara data dilola sampai mempunyai arti dalam memecahkan masalah.
f.       Urutkan asumsi-asumsi yang digunakan serta luibungannya dalam berbagai fase penelitian.


4.      Tahap Pengorganisasiandan Pengonsepan
a.        Pengelompokan bahan, untuk memgorganisasikan bagian mana yang didahulukan dan mana yang termasuk bagian terakhir. Data yang sudah terkumpul diseleksi dan dikelompokan sesuai jenis , sifat atau bentuk.
b.        Pengonsepan karya ilmiah dilakukan sesuai dengan urutan dalam kerangka karangan yang telah ditetapkan.

5.      Pemeriksaan/Penyuntingan Konsep (editing)
Bertujuan untuk:
a.       Melengkapi yang kurang.
b.      Membuang yang kurang relevan.
c.       Menghindari penyajian yang berulang-ulang atau tumpang tindih (overlapping).
d.      Menghindari pemakaian bahasa yang kurang efektif, misalnya dalam penulisan dan pemilihan kata, penyusunan kalimat, penyusunan paragraf, maupun penerapan kaidah ejaan.

6.      Penyajian
Teknik penyajian karya ilmiah harus memperhatikan:
a.         Segi kerapian dan kebersihan.
b.      Tata letak (layout) unsur-unsur dalam format karya ilmiah, misalnya halaman muka (cover), halaman judul, daftar isi, daftar tabel, daftar grafik, daftar gambar, daftar pustaka dan lain-lain.
c.       Standar yang berlaku dalam penulisan karya ilmiah, misalnya standar penulisan kutipan, catatan kaki (foot note), daftar pustaka & penggunaan bahasa indonesia sesuai EYD.
d.       Bagian inti karya ilmiah.
1)       Bagian inti karya ilmiah.
2)       Latar belakang dan masalah.
3)      Tujuan pembahasan.
4)      Ruang lingkup / pembatasan masalah.
5)      Asumsi, hipotesis dan kerangka teori.
6)      Sumber data
7)      Metode dan Teknik.
8)      Bagian analisis atau pembahasan.

7.      Kesimpulan
a. Berikan kesimpulan dari hipotesa. nyatakan dua atau tiga kesimpulan yang mungkin diperoleh .
      b.Berikan implikasi dari kesimpulan.
c    c. jelaskan bebernpa implikasi dari produk hipotesa dengan memberikan beberapa inferensi.

8.      Berikan studi-studi sebelumnya yang pernah dikerjakan yang berhubungan dengan masalah.
Nyalakan kerja-kerja sebelumnya secara singkat dan berikan referensi bibliografi yang mungkin ada manfaatnya sebagai model dalam memecahkan masalah. Dari pedoman beberapa ahli di atas, maka dapat disimpulkan bahwa penelitian dengan menggunakan metode ilmiah sekurang-kurangnya dilakukan dengan langkah-langkah berikut:
a.       Merumuskan serta mendefinisikan masalah.
b.      Mengadakan studi kepustakaan.
c.       Memformulasikan hipotesa.
d.      Menentukan model untuk menguji hipotesa.
e.       Mengumpulkan data.
f.       Menyusun, Menganalisa, and Menyusun interfensi.
g.      Membuat generalisasi dan kesimpulan.
h.       Membuat laporan ilmiah.