Kabut Asap Merajalela
Kabut
asap yang menyelimuti wilayah Sumatera dan Kalimantan kini sudah menjadi siklus
tahunan di Indonesia. Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan seperti sudah
menjadi tradisi bagi kita, bahkan tidak hanya wilayah Indonesia tetapi negara tetangga
pun ikut merasakan dampaknya, seperti Malaysia dan Singapura. Hingga oktober
ini, Kementrian lingkungan hidup dan kehutanan mencatat ada 156 titik panas
sumber kabut asap di Sumatera dan Kalimantan.
Kabut
asap tidak hanya berdampak bagi perekenomian melainkan juga berdanpak pada
lingkungan, kesehatan dan pendidikan. Dari segi ekonomi, bencana ini mengurangi
kunjungan wisatawan domestik dan menganggu aktivitas bisnis dimana banyaknya
penerbangan yang ditunda bahkan penutupan bandara untuk sementara waktu, hal
ini berakibat bagi Negara yang diperikirakan mengalami kerugian tujuh triliun lebih.
Sedangkan dari segi kesehatan, sebanyak 25,6 juta jiwa di sumatera
mengalami infeksi saluran pernapasan dan ada yang sampai mengakibatkan kepada
kematian. Apalagi bagi balita dan anak-anak betapa sulitnya bernafas dan
menghirup udara segera seperti biasa, Anak-anak terganggu jam belajarnya,
sekolah diliburkan, guru menjadi kerepotan karena target capaian kurukulum
meleset dari yang ditentukan dan diperkirakan hasil belajar tahun ini akan jauh
dari apa yang diharapkan. Namun begitulah ironinya, meski membuat begitu banyak
kerugian namun kabut asap ini terus saja terjadi setiap tahunnya. Bahkan jumlah
titik api yang terdeteksi pun semakin lama semakin banyak. Apakah anda setuju
untuk memberikan apresiasi terhadap fakta ini?
Sebuah
fakta yang aneh mengingat sebuah tradisi seharusnya membuat kita semua bersiap
dan waspada. Sehingga mampu melakukan tindakan pencegahan dan penanganan yang
lebih baik. Bahkan menghentikan tradisi itu! Namun ternyata ketika pada 2015
ini tradisi kabut asap itu masih kembali hadir. Dan ternyata, kita kembali tak
berdaya dan pasrah. Indonesia punya segudang orang-orang berpendidikan tapi
mengapa masalah kabut asap tetap tidak bisa ditangani ?
Setelah kabut asap merajalela, pemerintah dan aparat baru bergerak dan membagikan ribuan masker dan hukum mulai bertindak tegas, kemudian asap menipis dan terlupakan seperti angin lalu dan tahun depan kabut melanda lagi, seperti siklus.
Setelah kabut asap merajalela, pemerintah dan aparat baru bergerak dan membagikan ribuan masker dan hukum mulai bertindak tegas, kemudian asap menipis dan terlupakan seperti angin lalu dan tahun depan kabut melanda lagi, seperti siklus.
Kita
dapat mulai dari hentikan pembakaran hutan yang dilakukan orang-orang yang
tidak bertanggung jawab hanya untuk memperluas wilayah industri. Selain para
ilmuwan tanah air, mungkin kita bisa mengundang para pakar dari luar negeri
terkait solusi standar membuka lahan tanpa pembakaran ini. Selanjutnya adalah
para pengusaha yang bergerak di sektor kehutanan tersebut, kita masih harus
mencari cara agar para pengusaha tersebut mau “bekerjasama” menggarap lahan
tanpa membakar. Kita masih harus memutar akal agar para pengusaha tersebut
terbuka pintu hatinya bahwa membakar hutan, sungguh adalah perbuatan sia-sia.
Hal paling penting dari semuanya itu adalah praktek lapangannya atau
penerapannya dalam realita, bukankah kita sudah bosan dan malu sebagai bangsa yang besar tidak
dapat menyelesaikan masalah yang sama terus menerus melanda negeri ini? Mari terapkan
slogan yang mengatakan mencegah lebih baik daripada mengobati untuk Indonesia
bebas kabut asap.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar