Jumat, 30 Oktober 2015

Tulisan bebas



Kabut Asap Merajalela
Kabut asap yang menyelimuti wilayah Sumatera dan Kalimantan kini sudah menjadi siklus tahunan di Indonesia. Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan seperti sudah menjadi tradisi bagi kita, bahkan tidak hanya wilayah Indonesia tetapi negara tetangga pun ikut merasakan dampaknya, seperti Malaysia dan Singapura. Hingga oktober ini, Kementrian lingkungan hidup dan kehutanan mencatat ada 156 titik panas sumber kabut asap di Sumatera dan Kalimantan.

Kabut asap tidak hanya berdampak bagi perekenomian melainkan juga berdanpak pada lingkungan, kesehatan dan pendidikan. Dari segi ekonomi, bencana ini mengurangi kunjungan wisatawan domestik dan menganggu aktivitas bisnis dimana banyaknya penerbangan yang ditunda bahkan penutupan bandara untuk sementara waktu, hal ini berakibat bagi Negara yang  diperikirakan mengalami kerugian tujuh  triliun lebih.  Sedangkan dari segi kesehatan, sebanyak 25,6 juta jiwa di sumatera mengalami infeksi saluran pernapasan dan ada yang sampai mengakibatkan kepada kematian. Apalagi bagi balita dan anak-anak betapa sulitnya bernafas dan menghirup udara segera seperti biasa, Anak-anak terganggu  jam belajarnya, sekolah diliburkan, guru menjadi kerepotan karena target capaian kurukulum meleset dari yang ditentukan dan diperkirakan hasil belajar tahun ini akan jauh dari apa yang diharapkan. Namun begitulah ironinya, meski membuat begitu banyak kerugian namun kabut asap ini terus saja terjadi setiap tahunnya. Bahkan jumlah titik api yang terdeteksi pun semakin lama semakin banyak. Apakah anda setuju untuk memberikan apresiasi terhadap fakta ini?

Sebuah fakta yang aneh mengingat sebuah tradisi seharusnya membuat kita semua bersiap dan waspada. Sehingga mampu melakukan tindakan pencegahan dan penanganan yang lebih baik. Bahkan menghentikan tradisi itu! Namun ternyata ketika pada 2015 ini tradisi kabut asap itu masih kembali hadir. Dan ternyata, kita kembali tak berdaya dan pasrah. Indonesia punya segudang orang-orang berpendidikan tapi mengapa masalah kabut asap tetap tidak bisa ditangani ?
Setelah kabut asap merajalela, pemerintah dan aparat baru bergerak dan membagikan ribuan masker dan hukum mulai bertindak tegas, kemudian asap menipis dan terlupakan seperti angin lalu dan tahun depan kabut melanda lagi, seperti siklus.

Kita dapat mulai dari hentikan pembakaran hutan yang dilakukan orang-orang yang tidak bertanggung jawab hanya untuk memperluas wilayah industri. Selain para ilmuwan tanah air, mungkin kita bisa mengundang para pakar dari luar negeri terkait solusi standar membuka lahan tanpa pembakaran ini. Selanjutnya adalah para pengusaha yang bergerak di sektor kehutanan tersebut, kita masih harus mencari cara agar para pengusaha tersebut mau “bekerjasama” menggarap lahan tanpa membakar. Kita masih harus memutar akal agar para pengusaha tersebut terbuka pintu hatinya bahwa membakar hutan, sungguh adalah perbuatan sia-sia. Hal paling penting dari semuanya itu adalah praktek lapangannya atau penerapannya dalam realita, bukankah kita sudah bosan  dan malu sebagai bangsa yang besar tidak dapat menyelesaikan masalah yang sama terus menerus melanda negeri ini? Mari terapkan slogan yang mengatakan mencegah lebih baik daripada mengobati untuk Indonesia bebas kabut asap.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar